agusbasuki

ngalor ngidul

ANTARA MERAPI – KELUD DAN UJIAN NEGARA

Setelah sesorean melihat kotak elektrik yang menayangkan berita tentang ‘demo’ para siswa menolak diadakan ujian negara, sambil nyruput kopi dan menghisap rokok dengan rasa mentholnya pikiran Kang Mbalunk mulai menerka – nerka sebenarnya ‘ada apa denganmu pendidikan Indonesia?’.
Lho kok? Apa hubungannya Merapi, Kelud dengan Ujian Negara? — Dasar Ngelanturism!!!!!!!!
Sik, sik ojo mandeg olehe moco mas, yu, om, tante, pakde, bude lan sak panunggalane!
Jangan disalahken Kang Mbalunk olehe ngelantur!, katanya jaman demokrasi (bukan sing gede emoh dikerasi lho!) jaman kebebasan berpikir jaman kebebasan ngoceh? husss ojo saru ah!
Kita masih ingat Merapi dan Kelud beberapa waktu lalu yang menimbulkan ontran – ontran di daerah dekat kedua gunung tersebut to??? Kemudian mencuat tokoh mbah Marijan.
Terus maksude?
Nah, Merapi dan Kelud menurut budaya setempat kan punya ‘juru kunci’ yang tahu betul tentang irama nafas keduanya, bahkan mbah Marijan dengan beraninya mengatakan bahwa Merapi tidak meletus! hanya ‘batuk’ saja dan terbukti!!!! TERNYATA mbah Marijan memang ‘ROSA – ROSA’. Demikian halnya dengan ‘juru kunci’ Kelud, tapi sayangnya tidak bisa mengikuti ‘ROSA – ROSA’ -nya mbah Marijan karena saat itu kalah ‘ROSA’ dengan aparat.
Halnya dengan pendidikan Indonesia! walaupun ‘juru kunci’-nya, kalau boleh dikatakan ‘mencla – mencle’ (wah gaswat Kang Mbalunk mulai rak karuan lambene!). Lha gimana gak ‘mencla – mencle’ to? Kurikulum sudah dibuat model KTSP, Sistem Kompetensi juga sudah jalan dan ….
dengan sistem kompetensi siswa sudah mendapatkan predikat ‘kompeten’ pada materi tertentu, lha kok ujian negara masih tetap berlenggang wah – wah ‘juru kunci’-nya jelas gak minum jamu ‘ROSA – ROSA’.
Kalau ada acara khusus macam ‘piyeee jal’ mungkin akan banyak yang ngomong soal ‘juru kunci’ ini (yakne lho!). Kata orang ahli, bahwa tiap – tiap individu memiliki kemampuan dibidangnya masing – masing, siswa yang mampu dalam matematik belum tentu mampu dalam bidang linguistik, siswa yang mampu dalam bidang linguistik mungkin mampu dalam bidang sosial tapi belum tentu menguasai matematik. Lantas apakah pendidikan kita menginginkan out put yang seragam? sehingga keistimewaan tiap individu tidak perlu dihargai? Sehingga ke depannya kita buat pabrik robot pendidikan?
Oooo walaahh, Kang Mbaluuuuuunk!!!! ilmune isih cethek wae ngomonge nggaya! KEMINTER! (hehehe)….
Kethap – kethip matane Kang Mbalunk, masih melanjutkan ‘KEMINTERE’ Lha iya…ya misalnya para ‘juru kunci’ menetapkan kelulusan tidak seperti yang pernah dilakukan, misalnya penentuan kelulusan diambil dari rata – rata nilai minimal ujian nasional kan malah “ADIL’.
Lha piye to? Siswa dengan nilai Matematika 8,0. Bahasa Indonesia 7,0. Bahasa Inggris 4,3. Bila batas kelulusan minimal dibuat 4,5 saja jelas siswa yang memiliki nilai rata – rata 6,43 DINYATAKAN TIDAK LULUS. Mendingan siswa yang pas – pasan saja!!! Dengan nilai Matematika 5,0, Bahasa Indonesia 5,0 dan Bahasa Inggris 5,0 dengan nilai rata – rata 5,0 DINYATAKAN LULUS……. OPO TUMON???????
Memang pendidikan butuh patokan, sehingga perlu adanya ujian dimana soal – soalnya terstandar. tapi mbok yao… para ‘juru kunci’ pendidikan dapat membuat keputusan yang arif, tidak menimbulkan ontran – ontran seperti gunung mau meletus…gitu loh.
LHA PIYE TOH….!!!! KANG MBALUNK YANG MASIH GEBLEG SAJA BISA MIKIR KOK!!!

November 27, 2007 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.