agusbasuki

ngalor ngidul

Jalan menuju selamat

Sering kita baca tulisan di koran, kejadian – kejadian pilu yang seharusnya tidak terjadi ! Kecelakaan yang merenggut nyawa sebuah keluarga, bapak – emak – anak – cucu – bahkan rombongan satu kampung. Di hari ini saja terjadi kecelakaan yang mengenaskan, sebuah truk yang membawa jenazah dari Cirebon bertabrakan dengan truk lain sehingga sopir dan anak sang jenazah ikut menyusul menjadi jenazah.
Memang, mati dan hidup seseorang sudah diatur oleh Yang Kuasa, tetapi mati sia – sia di jalan bukanlah mati yang dikehendaki Yang Maha Kuasa ! Haruskah sebagai pengguna jalan kita menyerahkan segala sesuatunya dengan nasib yang seolah – olah sudah digariskan?
Kita kembalikan semua masalah yang ada terhadap kita sendiri sebagai pengguna jalan. Mari kita berhitung untung ruginya ngebut dan main selonong di jalan raya.
1. Waktu tempuh tidak bisa ‘mengkeret’
Ini perlu mendapat perhatian saat kita menuju ke tempat tujuan. Kebiasaan nyelonong saat lampu kuning sudah menyala, menuju lampu merah seakan menjadi budaya orang Indonesia. Padahal semestinya lampu kuning merupakan peringatan kepada kita bersiap – siap untuk berhenti. BUKAN malah tambah kecepatan. Kalau kita berhenti menunggu lampu merah kita hanya menunggu paling lama 3 menit. Sebaliknya kalau kita tancap gas, kemungkinan yang paling kecil adalah kena TILANG POLTAS, kemungkinan yang paling berat adalah KETEMU MALAIKAT PENCABUT NYAWA bila dari arah lain ada kendaraan yang sudah jalan pada saat kita berada ditengah – tengah persimpangan. Nah, tinggal kita pilih yang mana mau nunggu 3 menit apa memilih KETEMU MALAIKAT? Sebagai contoh, saat kita berkendara ke Semarang waktu tempuh yang paling cepat adalah 30 menit, paling lambat 60 menit jadi perhitungkan kapan anda harus keluar dari rumah agar urusan di Semarang tidak terlambat!
2. Jalan Raya bukan tempat latihan balap
Seringkali kita lihat gaya mengendara si “ROSSY” dibawa ke jalan raya oleh mereka yang mungkin pengin jadi pembalap tapi nggak tahu bagaimana cara jadi pembalap atau mungkin nggak kesampaian karena kurang modal! Sehingga mereka menempatkan dirinya seolah – olah mereka jadi pembalap saat di jalan raya. Cara mereka menyalip, seolah olah nggak ada aturan nyelonong dari kiri walaupun keadaan ramai sekalipun tetap nyelonong!

Ingat, bahwa jalan raya bukan sirkuit! Ada pengguna jalan lainnya yang berada di jalur kiri, pengendara sepeda atau pejalan kaki, kita harus sadar bahwa mereka juga berhak menggunakan jalan yang kita lalui.
3. Memberikan kesempatan orang menyeberang bukan pecundang
Budaya di jalan raya kita memang sudah ‘KETERLALUAN’, bayangkan budaya timur yang diagung – agungkan penuh dengan sopan santun tidak terbawa saat kita berada di jalan raya. Mari kita tanyakan pada diri kita sendiri, selama kita berkendara di jalan raya berapa kalikah kita memberi kesempatan kepada penyeberang jalan untuk menyeberang? Yang kita lakukan malah memberikan suara klakson pada penyeberang agar tidak jadi menyeberang saat kita melalui jalan. Seolah – olah kita yang punya jalan, kita harus didahulukan dan bila memungkinkan saat kita lewat semua orang harus berhenti menunggu kita lewat, memangnya kita masinis?
Kalau kita lihat tayangan berlalu lintas di negara – negara yang kata kita budayanya tidak lebih baik dari kita, betapa mereka para pengemudi selalu mengutamakan para penyeberang jalan, tidak bisakah kita sebagai orang timur meniru mereka?
Padahal kalau kita berikan kesempatan pada penyeberang kita hanya kehilangan waktu tidak lebih dari 3 menit!
4. Kemampuan Rem ada batasnya
Kendaraan selalu dilengkapi dengan rem depan dan belakang. Tapi tahukah anda pada saat terjadi deselerasi (pengereman) membutuhkan jarak untuk berhenti? jarak pengereman ini dipengaruhi beberapa faktor, antara laian : kecepatan laju kendaraan, beban yanjg ada di kendaraan dan kondisi jalan (basah/ kering). Semakin cepat laju kendaraan, maka semakin jauh pula jarak kendaraan yang dibutuhkan untuk berhenti. Demikian saat kita berboncengan maka momen kelembaman yang terjadi semakin besar, maka jarak pengeremanpun akan semakin jauh. Apalagi ditambah kondisi jalan basah. Sehingga perlu kita jaga jarak dengan kendaraan yang ada di depan. Pada prinsipnya kerja rem adalah dengan sistem gesekan, yakni menggesekkan sepatu rem/ kampas dengan tromo0l atau piringan. sehingga proses pengereman akan menghasilkan panas baik pada piringan/ tromol dengan sepatu rem. Maka penggunaan rem yang berlebihan akan mengakibatkan sepatu rem akan terbakar, untuk menghindari kejadian ini maka jangan hanya mengandalkan kerja rem saja tetapi kita harus menggunakan efek ‘Engine Brake’ untuk membantu mengurangi laju kendaraan saat pengereman! Pada umumnya saat pedal gas kita lepaskan maka engine akan ‘ngganduli’ laju kendaraan, saat jalan menurun maka gunakan gigi transmisi yang lebih rendah agar laju roda tertahan oleh putaran mesin. Bahkan pada kendaran berat akan menggunakan gigi 1 apabila melewati turunan tajam. Sehingga apabila anda menggunakan cara ini niscaya kejadian rem blong tidak terjadi.
5. Akselerasi kendaraan berbeda
Tidak kalah pentingnya adalah kemampuan akselerasi/ percepatan kendaraan yang kita gunakan. Kebalikan dengan kemampuan rem, mengetahui akselerasi untuk mengetahui secepat mana kendaraan bisa melaju dengan tiba – tiba (penambahan kecepatan). Hal ini perlu kita ketahui agar pada saat kita menyalip kendaraan lain kita bisa memperhitungkan jarak yang tepat sehingga tidak berbenturan derngan kendaraan dari arah yang berlawanan. Jangan memaksakan menyalip kendaraan lain bila mana jarak kendaraan dari arah depan terlalu dekat, walupun lawan kita kendaraan kecil.
Nah, kalau sudah berusaha untuk menjadi pengguna jalan yang baik, paling tidak 90% perjalanan kita akan selamat, karena 10% nya lagi tergantung dari pengguna jalan lain dan milik Yang Membuat Nyawa.
SEMOGA SELAMAT BERKUMPUL DENGAN KELUARGA.

Desember 2, 2007 Posted by | otomotif | 1 Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.